Percakapan antara saya dan Tuhan Yesus.

Filed under: by: COGS

Ini sudah hari kedua berturut-turut saya kena hukuman nge-blog karena tidak sate tepat waktu. Ah salahkan otak bodoh saya yang berani-beraninya berpikir kalau tidak tidur adalah pilihan tepat untuk bisa bangun pagi. Nyatanya, badan saya menyerah sekitar pukul 4 pagi dan baru kembali ke dunia nyata pada pukul 10 pagi. Iya pagi, bukan malam. Walaupun kebo, saya masih tau diri mengatur pola tidur kok. Dan walaupun tau diri ternyata saya tidak tau baca jam. Tiap hari berjanji bahwa akan tidur di pukul 10 malam dan kemudian baru tidur ketika jam putih berbentuk lingkaran di dinding saya menunjuk pukul 2 pagi. Atau 3 pagi. Itupun karena mata saya sudah terlalu lelah menatap layar monitor laptop.

Lalu dengan lantangnya saya berujar kalau pola tidur yang tidak terkendalikan itulah penyebab utama saya tidak bisa sate tiap pagi. Atau malam. Atau siang. Atau sore. Nyatanya saya sering tidak sate. Entahlah, mungkin karena terlalu terbuai dengan indahnya dunia manusia atau dunia di laptop. Padahal jelas-jelas yang salah yaa saya. Emm, mungkin otak saya. Bukan. Mindset saya. Intinya SAYA. Bukan, bukan salah Tuhan yang menciptakan saya. Bukan . . .

Saya tidak tau apa ini berhubungan atau tidak. Tapi yang jelas beberapa peristiwa hari ini mengajarkan saya sesuatu. Sering kita terlalu takut membuat kecewa orang lain. Teman, orang tua atau atasan kita. Tapi tidak begitu peduli ketika keputusan itu mengecewakan Tuhan. Saya begitu takut menolak ajakan teman untuk hang out, tapi sudah beribu kali menolak ajakan Tuhan untuk berdoa sebelum tidur. Saya rela berjuang 3 tahun di kampus saya demi menyenangkan orang tua (well, demi masa depan saya juga) tapi malas berjuang bangun pagi sehari saja untuk 15 menit berbagi cerita dan harapan dengan Tuhan.

Yesus itu sebenarnya siapa saya? Kadang saya bingung, apa hubungan saya sama Yesus seperti habis manis sepah dibuang ya? Datang ketika perlu, dibuang ketika tak perlu. Semacam win-win solution. Di pihak saya tentunya. Jadinya, win solution.

Karena takut teman saya sedih, saya menerima ajakannya. Karena takut orang tua menangis, saya habiskan 3 tahun untuk melakukan sesuatu yang tidak saya suka. Karena jarang baca Alkitab, saya tidak kurang takut ketika nyatanya saya jarang sate, gereja dalam rangka formalitas, sering bohong, itung-itungan kalau berbuat baik, dan sekarung dosa lainnya yang kalau disebutkan satu-persatu bahkan seluruh jagat bumi pun muak mendengarnya. Saya tidak takut. Bukan. Saya kurang takut. Bukan. Saya tidak peduli. Bukan! Saya takut sih, tapi ya mau bagaimana lagi saya kan manusia. Wajar dong berdosa. Kalau tidak berdosa, saya mungkin sudah jadi Tuhan Yesus sekarang.

(tertawa kecut) Kalau begitu, Yesus mungkin akan bilang. Saya juga Anak Allah. Harusnya bisa bersantai-santai dong. Harusnya ngga perlu jadi manusia dong. Harusnya ngga dihina-hina orang banyak dong. Harusnya ngga disalibkan di Golgota dong. Tapi apa yang sudah dilakukan Yesus? Apakah Ia pernah bilang karena Dia Anak Allah, Ia tidak seharusnya disalibkan di Golgota? Coba cari di Alkitab.

Lalu, siapa saya ketika berucap, saya kan manusia berdosa  tidak seharusnya dihukum hanya karena dosa-dosa kecil semacam tidak sate? Lalu kalau jarang membaca Alkitab apa fondasi hidup saya sebagai seorang Kristen? Kalung salib? Alkitab yang teronggok di samping bantal? Atau persentase kehadiran saya di gereja? Sekecil itukah iman saya pada Yesus? Mulut saya sesumbar mengucap Dia Juruselamat Hidup saya, tapi nyatanya saya bahkan tidak begitu mengenal Dia. Tidak begitu peduli ketika Dia kecewa dengan hubungan kami yang berantakan karena kemalasan saya. Tidak begitu percaya bahwa Dia sudah menjamin masa depan saya dan saya malah lebih memilih ketakutan sepanjang hari akan nasib selanjutnya setelah wisuda. Tidak begitu intens membangun hubungan yang baik dengan-Nya karena memang saya belum punya fondasi yang kuat. Dan kembali lagi. Fondasi itu firman Tuhan. Baca Alkitab. Saat Teduh. Berdoa. Berkomunikasi dengan-Nya. Bukankah komunikasi adalah kunci sebuah hubungan yang baik? J

Saya pernah membaca tulisan jadikanlah Yesus sebagai teladan hidupmu. Dari gaya hidup saya di atas, sisi mananya Yesus yang sudah saya teladani?

APLIKASI
Mulai besok dan seterusnya saya harus mau berjuang tidur cepet dan bangun pagi untuk cerita sama Tuhan Yesus karena Yesus kangen dan sayang sama saya. Jadinya, saya nggak boleh mengecewakan DIA.


TPPB 10 - LIDIA

Filed under: by: COGS

Ini hasil PA dari Kitab Kisah Para Rasul 16 : 6-15. Dan tokoh perempuan yang menjadi teladan COGS kali ini adalah Lidia. 

6-7-8
“mereka” adalah Paulus dan Silas. Silas adalah orang terpandang dan seorang nabi. Ia diutus menemani Paulus dan Barnaba bersama dengan Yudas(Barsabas). Namun, di pasal sebelumnya saat Paulus dan Barnabas berpisah, Silas lah yang ikut dengan Paulus. Dalam perjalanan mereka, mereka selalu dilindungi oleh Roh Kudus. “having been kept”
Setiap usaha penginjilan, dan kegiatan misionaris khususnya dalam perjalanan pekabaran Injil di dalam kitab ini adalah hasil pimpinan Roh Kudus (Kis 1:8; 2:14-41; 4:8-12,31; 8:26-29,39-40; 10:19-20; 13:2; Kis 16:6-10; 20:22). Bimbingan itu bisa berupa penyataan nubuat, dorongan dalam hati, keadaan tertentu atau penglihatan (ayat Kis 16:6-9). Dengan dorongan Roh Kudus orang percaya bergerak maju memberitakan Injil kepada yang belum diselamatkan. Ketika dicegah oleh Roh untuk pergi ke suatu arah, mereka akan ke arah yang lain, sambil berharap pada Roh Kudus untuk menyetujui atau tidak menyetujui rencana perjalanan mereka.

9
Di Troas Allah menyingkapkan rencana-Nya dengan mengirimkan seorang yang berkata, "Marilah menyeberang ke Makedonia menolong kami" (TL). Permintaan tersebut menghilangkan setiap masalah tentang bagaimana Paulus dapat mengenali orang tersebut sebagai orang Makedonia; permohonannya itu sudah menunjukkan asal usulnya.

10
Di sini terdapat bagian "kami" pertama yang demikian terkenal di dalam kitab ini, di mana narasi berubah dari orang ketiga menjadi orang pertama jamak. Alasan munculnya gejala penulisan ini telah diperdebatkan dengan hangat, tetapi penjelasan yang paling mudah ialah bahwa mulai titik ini penulis kisah bergabung menjadi rekan seperjalanan Paulus. Apabila penjelasan ini benar, maka Lukas bergabung dengan Paulus di Troas dan pergi bersamanya ke Filipi (ayat 16 merupakan akhir bagian "kami" pertama ini), di mana Lukas lalu tinggal di Filipi sedang Paulus melanjutkan perjalanannya.

11-12
Kota Filipi terletak di distrik pertama dari propinsi Makedonia. Oleh karena sebuah kota perantauan orang Roma, maka Filipi menjadi sebuah kota yang pada pokoknya Latin; pemerintahannya serupa dengan pemerintahan Roma.
Paulus naik kapal di Troas dan berlayar menuju ke Samotrake dan hari berikutnya ke Neapolis, yang merupakan pelabuhan dari Filipi, sebuah kota yang terletak sepuluh mil dari pantai. Makedonia dibagi menjadi empat wilayah atau bagian, dan Filipi merupakan ibu kota dari salah satu wilayah ini. Tempat itu juga merupakan kota perantauan orang Roma. Istilah koloni untuk kota itu berasal dari istilah bahasa Latin. yang mengacu pada kota-kota yang sebagian besar berpenduduk warga Romawi dan terletak di titik-titik strategis di seluruh kerajaan, yang mendapat beberapa hak khusus seperti pemerintahan sendiri, bebas dari penarikan pajak negara, dan hak yang sama dengan warga di Italia. Kota semacam itu merupakan semacam Roma kecil yang jauh dari pusat.

13
Di kota Filipi orang-orang Yahudi tidak mempunyai rumah ibadat (sinagoga). Mereka berkumpul dekat pada air (sehubungan dengan pembasuhan rituil). Orang Jahudi tentu tidak banjak di Pilipi, sebab malahan tidak mempunjai gedung sinagoga.
Rupanya di Filipi tidak ada masyarakat atau sinagoge Yahudi. Sepuluh orang sudah cukup untuk mendirikan sebuah sinagoge. Sekalipun demikian, ada sebuah tempat pertemuan tidak resmi untuk sekelompok perempuan Yahudi dan sejumlah orang yang takut akan Allah di luar kota di tepi sungai. Kata tempat sembahyang di dalam tulisan-tulisan Yahudi dianggap sama dengan "sinagoge". Setelah duduk, suatu sikap yang menunjukkan seseorang itu adalah seorang guru Yahudi.

14
Lidia mungkin adalah nama orang, atau mungkin juga berarti "orang Lidia," yang mengacu kepada wilayah dimana terletak Tiatira. Wilayah ini terkenal karena ada pabrik tenun kain ungu dan Lidia menjual barang dagangan tersebut di Filipi. Perempuan ini adalah orang bukan Yahudi yang telah menerima unsur-unsur tertinggi dari Yudaisme.
She was a worshiper of God “was” à selama ini mengikut Allah
Karena Lidia masuk Kristen, maka seluruh familinya masuk pula à masuk Kristen kemungkinan besar berarti dibaptis oleh Paulus, terus dia pengen seluruh keluarganya juga dibaptis sama Paulus
The Lord opened her heart to respond to Paul’s message.

15
Selaku perempuan yang cukup kaya, Lidia memiliki keluarga dan sejumlah pelayan yang mengikuti teladannya menjadi orang beriman dan dibaptis. Istilah seisi rumah bisa termasuk anak kecil dan bisa tidak.
Lydia adalah wanita pertama di benua Eropa yang bertobat, hasil dari penginjilan Rasul Paulus. Buah sulung untuk Tuhan dalam pelayanan Rasul Paulus. 
Berlawanan dengan kelakuannya yang lazim, bdk Kis 20:33-35; 1Te 2:9; 2Te 3:8; 1Ko 9, Paulus menjadi tamu Lidia. Selanjutnyapun Paulus menerima bantuan dari jemaat di Filipi, meskipun tidak pernah mau menerimanya dari jemaat lain, bdk Fili 4:10-18. Tidak ada penghormatan lebih besar terhadap cinta kasih Lidia dan orang-orang Kristen lain di Filipi.

Interpretasi
Paulus dan Silas betul-betul taat pada Tuhan. Mereka taat pada tuntunan Roh Kudus, mengikuti jalan yang dipimpin Roh Kudus karena mereka membangun hubungan yang dekat dengan Tuhan Yesus. Tuhan selalu membuka jalan untuk umat-Nya yang mau membuka hati untuk Dia. Paulus dituntun ke tempat-tempat tersebut karena memang ada umat-Nya yang butuh penginjilan. Lidia contohnya. Ia membuka hatinya untuk Tuhan , dibaptis, dan sangat ramah pada Paulus sampai memintanya untuk menumpang di rumahnya. Hati Lidia dibuka oleh Tuhan, sehingga ia mengerti Injil. 

Kesimpulan
Tuhan tahu isi hati setiap umat-Nya dan ngga akan ninggalin di belakang satu pun umat yang percaya pada-Nya. Asal percaya dan berserah, membangun hubungan yang dekat dengan-Nya, pasti dituntun Tuhan pasti dibukakan jalan, entah melalui orang lain atau hal-hal yang terjadi di sekitar kita. Selalu ingat orang yang bertumbuh dengan kita dalam Tuhan dan teman seiman, baru kenal atau sudah lama kenal. Tuhan menyayangi dia sama seperti Tuhan menyayangi kita. J

APLIKASI
Stop worrying stupid things!!! Your future is in God hands.

“saya mau datang kepada-Nya, saya menginginkan Kristus dan saya menginginkan Dia sekarang dan selamanya”

sumber : dari penelaahan sendiri dan diambil dari berbagai sumber


TPPB 11 - EUODIA DAN SINTIKHE

Filed under: by: COGS

Sabtu 7 September 2013. Hari itu kami, COGS, lagi KTB dan memPAkan Bab 11 dari Buku TPPB (Tokoh Perempuan  dalam Perjanjian Baru) yang taat dan yang sesat. Satu bab lagi dan kami telah menyelesaikan 3 buku PA selama 3 tahun. Tiba-tiba Mega mendapat sms dari kakaknya “Lagi apa?”, Mega bales “lagi KTB kak.” Kakak Mega membalas lagi “Bah, lalap KTB tapi paling sate juga bakal bolong-bolong kalau pulang” #KiraKiraSepertiILah.. Dan jleb jleb jleb..

Setiap minggu aplikasi setelah PA kami pasti selalu sama “Sate biar ga bolong2”, “Sate biar disiplin bisa pagi”, “jam doa biar teratur”, “pola hidup biar teratur” deelel..  3 buku PA dan masih seperti masih belajar buku MHB (memulai hidup baru). Bahkan untuk sekedar satepun masih jatuh bangun.. huffttt....

Dan akhirnya kami membuat satu proktat untuk saling mengirimkan hasil satenya sebelum jam 7 pagi mulai besok pagi (8 September 2013) sampai saat wisuda tar.  Kenapa sampai wisuda? Karena berdasarkan hasil penelitian orang lain (ntah sapa orangnya) disebutkan bahwa apabila kita teratur melakukan sesuatu selam 21 hari berturut-turut maka kita akan terbiasa melakukannya sebagai kebiasaan. Malam harinya aku mengingatkan temen-temen agar tidak begadang agar besok paginya bisa sate, tapi ternyata oh ternyata akulah yang gagal. Sebenernya aku udah tidur cepet sih, tapi tengah malem digigit nyamuk dan akhirnya ga bisa tidur dan akhirnya susah bangun pagi.. hufftt..

Akhirnya akulah yang kena hukuman, hukuman bagi yang gagal adalah nulis di blog hasil PA sari MHB, KTK dan TPPB.. So, karena kemaren baru aja PA bab 11 TPPB, aku share hasil PA kemarin *masih freesh.. xixixixixixi :D

Dalam TPPB 11, kami belajar dari Eudia dan Sintikhe yang diberi judul “Perempuan dalam Konflik”, bacaan diambil dari Fil 3:20-4:9 dan 2:1-8. Disini aku hanya berfokus pada Fil3:20-4:9 karena Fil2:1-8 sudah pernah dibahas di buku KTK (Ketuhanan Kristus) bab 7 *maybe bakal di bahas sama yang lain kalo kena hukuman :p

OBSERVASI
3:20     Karena kewargaan d  kita adalah di dalam sorga1 , e  dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus f  sebagai Juruselamat,
Kewargaan à ef 2:19 Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, w melainkan kawan sewarga x  dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga y  Allah.
Hal ini berarti kita adalah anggota keluarga Allah/anak Allah, oleh karena itu, marilah kita bersikap dan berperilaku selayaknya anak-anak Allah. 
3:21      yang akan mengubah tubuh g  kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya h  yang mulia, menurut kuasa-Nya i  yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya. 
Mengubah tubuh 1Kor 15:43-53 (TB)
15:43 Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. à Tuhan membuat kita mampu mengatasi segala kelemahan dan kehinaan
4:1     Karena itu, kita-kita yang kukasihi dan yang kurindukan, j  sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh k  dalam Tuhan, hai kita-kitaku yang kekasih!

Nasihat-nasihat terakhir
4:2         Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir l  dalam Tuhan. 

Mereka adalah orang kristen yang aktif (ay 3). Sekalipun mereka adalah orang perempuan, tetapi mereka melayani / mengabarkan Injil dan betul-betul melayani mati-matian. Dari ay 3, dikatakan bahwa dahulu mereka berjuang bersama-sama dengan Paulus dalam Pekabaran Injil, maka dapatlah disimpulkan bahwa dahulu mereka mempunyai hubungan yang baik. Tetapi, sekarang hubungan mereka berubah. Apa yang terjadi di antara mereka?

Dalam ay 2 dikatakan bahwa Paulus menasehati mereka supaya 'sehati sepikir dalam Tuhan'. Jadi, rupa-rupanya mereka bukan saling membenci, bermusuhan, gegeran secara terbuka dsb. Di antara mereka mungkin hanya ada keretakan yang disebabkan oleh ketidakcocokan dalam cara bekerja.

sehati sepikir (fil 2:2) karena itu sempurnakanlah v  sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, w  dalam satu kasih, satu jiwa, x  satu tujuan à hal inilah yang selayaknya dilakukan oleh orang-orang yang berada dalam Kristus.

Ketidaksepakatan antara Euodia dan Sintikhe cukup serius untuk disebutkan dalam surat untuk dibaca publik, tetapi Paulus tampaknya yakin bahwa "para wanita" (ayat 3) akan didamaikan. Caranya menangani situasi adalah model bijaksana - ia tidak langsung turun tangan tetapi mendorong orang lain yang lebih dekat dengan situasi tersebut untuk merelaikan karena saat itu Paulus sedang berada di penjara.


4:3         Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja m  yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan. n  

Kitab Kehidupan. Paulus tahu bahwa nama-nama mereka tercantum dalam Kitab Kehidupan dari buah kehidupan mereka (Mat 7:15-20), yang menunjukkan iman mereka dan dari wahyu Tuhan.

Tercantumnya nama mereka dalam Kitab Kehidupan jelas membuktikan bahwa mereka adalah orang pilihan dan orang kristen yang sejati! Adanya keretakan di antara mereka, tidak membuktikan bahwa mereka adalah orang kafir! Ingat bahwa Paulus dan Barnabas yang begitu rohanipun, bisa mengalami perpecahan (Kis 15:35-39).

Dari apa yang Paulus lakukan dalam ay 2-3, terlihat bahwa ia mengang-gap keretakan ini sebagai sesuatu yang serius. Ini disebabkan karena hubungan kita dengan sesama saling mempengaruhi dengan hubung-an kita dengan Tuhan, kalau hubungan dengan Allah rusak, maka hubungan dengan sesama juga akan rusak, begitupun sebaliknya.

Keretakan antara Euodia dan Sintikhe sedikit banyak akan me-renggangkan hubungan mereka dengan Allah! Keretakan antara mereka berdua menyebabkan mereka sukar / tidak bisa bekerja sama. Dan ini akan mempengaruhi pelayanan dari seluruh gereja Filipi! Keretakan ini bisa berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar, seperti kebencian, pertengkaran yang terbuka dsb!


4:4         Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan 2 ! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! o  

Orang percaya harus bersukacita dan memperoleh kekuatan dengan mengingat akan kasih karunia dan dekatnya Tuhan serta janji-janji-Nya (lihat cat. --> Fili 1:4). saat itu Paulus sedang ada dalam penjara Filipi, tetapi ia bisa menyuruh orang lain untuk bersukacita. Biasanya, kalau kita sedang menderita, maka yang kita harapkan dari orang lain adalah supaya ia berdoa bagi kita, menghibur kita, meno-long kita dsb. Tetapi Paulus justru menyuruh jemaat Filipi untuk bersukacita! ia bukan hanya menyuruh jemaat Filipi untuk bersukacita, tetapi ia sendiri juga bisa bersukacita di tengah-tengah penderitaannya (bdk. 1:4,18 2:18 4:10 2Kor 6:10).


4:5         Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat 3 ! p  

'Kebaikan hati'. NIV: 'gentleness' (= kelemahlembutan). Kalau kita betul-betul hidup baik hati, dengan motivasi untuk memuliakan Allah, maka dengan sendirinya orang-orang di sekitar kita akan melihat, dan tahu, dan bahkan mengalami, kebaikan hati kita.
Tuhan itu dekat (ay 5b). Ay 5b: 'Tuhan sudah dekat'. Terjemahan ini kurang tepat! NIV / NASB / Lit menterjemahkan 'the Lord is near' (= Tuhan itu dekat). Ini memberikan 2 kemungkinan arti yaitu Tuhan selalu dekat / hadir bersama kita dan Kedatangan Tuhan Yesus yang keduakalinya sudah dekat (bdk. Yak 5:7-11).


4:6         Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga 4 , q  tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah r  dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. 
Jangan kuatir tentang apapun juga (ay 6a):
Takut / kuatir jelas merupakan dosa, karena takut / kuatir menunjukkan ketidakpercayaan kepada Allah (bdk. Mat 6:25-34 8:26). Disamping itu, takut / kuatir jelas bertentangan sekali dengan damai. Dimana ada rasa takut / kekuatiran, pasti tidak ada damai.
Berdoa dengan ucapan syukur (ay 6b):
'Seven days without prayer makes one weak' (= tujuh hari tanpa doa membuat seseorang jadi lemah). Ini adalah permainan kata yang indah, karena 7 hari sebetulnya adalah one week (= satu minggu), tetapi 7 hari tanpa doa membuat seseorang menjadi weak (= lemah).
'Segala hal' (ay 6) à 'There is nothing too great for God's power; and nothing too small for his fatherly care' (= tidak ada yang terlalu besar untuk kuasa Allah, dan tidak ada yang terlalu kecil untuk kasih / perhatian kebapaanNya). Kita tidak boleh takut / sungkan untuk meminta sesuatu yang besar kepada Allah! Sebetulnya dengan kita berani meminta sesuatu yang besar kepada Allah, maka kita menghargai / mengakui kebesaran Allah yang sanggup memberikan hal yang bagaimanapun besarnya. Juga, kalau Tuhan menyuruh kita untuk membawa segala hal dalam doa kepadaNya, maka itu memberikan jaminan kepada kita bahwa Ia tidak mungkin bosan dengan permintaan / doa kita. Karena itu, di dalam berdoa kepada Tuhan, jangan sekali-kali berpikir bahwa Tuhan bisa bosan mendengar doa kita!

4:7         Damai sejahtera Allah, s  yang melampaui segala akal, t  akan memelihara hati dan pikiranmu 5  dalam Kristus Yesus. 

'Damai sejahtera Allah' (ay 7). karena adanya doa yang disertai iman / trust dan ketundukan pada kehendak Allah (ay 6), maka akan ada damai di dalam diri kita! (bdk. Yes 26:3).
'Melampaui segala akal' (ay 7) karena itu tidak akan bisa dimengerti, khususnya oleh orang dunia! Dalam situasi dimana orang seharusnya takut / kuatir, maka orang kristen yang mau dan bisa melakukan ay 6 itu bisa tetap damai dan sukacita!


4:8         Jadi akhirnya, kita-kita, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci 6 , semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. 

Kata 'pikirkanlah' (ay 8) dalam bahasa Yunaninya adalah LOGIZESTHE dan kata ini ada dalam bentuk present imperative (= kata perintah dalam bentuk present / sekarang). Dalam bahasa Yunani ada 2 bentuk kata perintah. Kalau digunakan aorist imperative (= kata perintah dalam bentuk lampau) maka maksudnya memerintahkan untuk dilakukan hanya satu kali saja. Tetapi kalau digunakan present imperative menunjukkan bahwa perintah ini harus dilakukan terus-menerus. Dengan kata lain, kita harus menjadikan hal ini sebagai suatu kebiasaaan. Karena itu, jangan biarkan sedetikpun pikiran kita diisi dengan hal-hal yang jahat, tidak benar, tidak mulia dsb! Begitu kita sadar bahwa dalam pikiran kita sedang bercokol hal-hal yang salah / jahat dsb, segeralah minta ampun kepada Tuhan dan berusahalah untuk mem- buang pikiran jelek itu dari otak kita dan menggantikannya dengan hal-hal yang benar dan baik!


4:9         Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu.u  Maka Allah sumber damai sejahtera v  akan menyertai kamu.

Bukan hanya pikiran kita yang harus benar, tetapi hidup kita juga harus benar! Kalau ay 6-7 menekankan doa dan penyerahan kepada Tuhan, maka ay 8-9 menekankan pikiran yang benar dan hidup yang benar. Jika kita berpikir dan hidup benar, maka 'Allah sumber damai sejahtera' (the God of peace) akan menyertai kita!
Mat 5:8 mengatakan bahwa orang yang suci hatinya akan melihat Allah! Juga dengan Yes 48:18 yang mengatakan bahwa kalau kita mentaati Tuhan maka damai sejahtera kita akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaan kita akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti!

KESIMPULAN
Hubungan kita dengan sesama saling mempengaruhi dengan hubung-an kita dengan Tuhan, kalau hubungan dengan Allah rusak, maka hubungan dengan sesama juga akan rusak.
Keretakan antara Euodia dan Sintikhe sedikit banyak akan me-renggangkan hubungan mereka dengan Allah! Keretakan antara mereka berdua menyebabkan mereka sukar / tidak bisa bekerja sama. Dan ini akan mempengaruhi pelayanan dari seluruh gereja Filipi! Oleh karena itu penting untuk menjaga kesatuan.

APLIKASI
-          Memperbaiki n membicarakan masalah dengan teman n pacar
-          Berpikir positif saling menghargai pendapat teman

@littlewinda

2. Maria (Lukas 1:26-38, 46-56)

Filed under: by: COGS

Maria, Maria, Maria, siapa yang tidak tahu tentang dia? Setiap natal perihalnya diceritakan. Dia memang sosok perempuan yang taat pada kehendak Bapa. Kali ini saya akan membahas tokoh Maria, tapi saya akan mencoba menyajikan sesuatu yang berbeda. Saya harap kita tidak bosan-bosannya belajar dari tokoh perempuan yang satu ini.

Maria, seorang gadis belia yang masih perawan. Hatinya mungkin sedang berbunga-bunga. Bagaimana tidak? Ia baru saja bertunangan dengan pria yang dicintainya. Dan saat ini dia sedang menunggu hari pernikahannya dengan sang pria pujaan.

Entah angin apa yang datang. Entah mimpi apa dia kemarin. Tapi ternyata malaikat Gabriel tiba-tiba datang ke rumahnya. Menyentak dia dari mimpi indahnya. Bagaimana tidak? Malaikat Gabriel datang menubuatkan sesuatu yang sangat mustahil.

"Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." (ay 31-33), rentetan nubuatan itu seakan memutarbalikkan pemikiran Maria.

Bagaimana bisa Malaikat itu menubuatkan hidupnya dengan detail? Tentang dia akan mengandung? tentang Anaknya laki-laki? Bahkan sampai bagaimana Anaknya itu besar nantinya? Ah, Maria bingung. Benar-benar bingung. Akhirnya dengan memberanikan diri Maria pun bertanya, "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" (ay.34)


Dengan tenang, lembut, dan penuh wibawa Malaikat Gabriel berkata,"Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." (ay 35-37)

Apakah artinya ia akan mengandung bukan dari suaminya?, pikir Maria. Ah, bagaimana respon Yusuf nanti? Akankah Yusuf meninggalkannya karena hamil di luar nikah? Lalu bagaimana Anak itu akan tumbuh besar jika Ia tidak memiliki ayah? Tapi bukankah Anak itu dari Allah, bukankah seharusnya segala sesuatu yang dari Allah itu indah. Seperti sanakku Elisabet yang dikarunia putra di usia senjanya. Ah, harus bagaimana aku sekarang?

Perang berkecamuk di hati dan pikiran Maria. Seolah-olah ada 2 makhluk yang sedang berkelahi di pikirannya. Mereka berperang begitu dahsyat sehingga Maria benar-benar ingin memuntahkannya. Segala kemungkinan berseliweran di pikiran Maria. Segala risiko yang mungkin dia hadapi datang mengacaukan pikirannya.

Oh, bagaimana Tuhan?, tanyanya dalam hati. Di usianya yang masih belia, memang Maria sudah mengenal Tuhan. Ia tahu bahwa Tuhan Allah memberikan rahmatNya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia (ay 50). Ia juga tahu bahwa Allah menegakkan keadilan, mencerai-beraikan orang yang congkak hatinya, melimpahkan kebaikan pada orang lapar, dan menolong orang Israel (ay 51-55).

sumber: http://jawabanuntukmu.blogspot.com/2012/12/sudahkah-bunda-maria-menjadi-ibu-bagi.html
Maria menunduk diam. Bagaimanapun Maria adalah hamba Tuhan. Dan rancangan Tuhan adalah yang terbaik dari yang terbaik. Semua risiko akan ditanggungnya jika Allah memang berkenan. ""Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.", seru Maria mantap kepada Malaikat.

Alangkah senangnya hati Gabriel. Ia melihat betapa kuasa Allah bekerja dalam diri Maria. Ia tak sabar untuk bersukacita mengagungkan Allah Sang Maha Tinggi. Ia tersenyum dan beranjak meninggalkan Maria sambil memuji Allah Yang Maha Tinggi, "Kudus, Kuduslah Tuhan Allah Sang Maha Tinggi."

1. Elisabet (Lukas 1:5-25, 39-45, 57-66)

Filed under: by: COGS

Menilik kehidupan tokoh-tokoh alkitab memang tidak ada habisnya. Tokoh-tokoh tersebut menyimpan banyak hal yang harus kita contoh dan pelajari. Saat kita membaca dan mendalami karakter setiap tokoh seringkali pikiran dan hati kita juga ikut terseret dalam arus cerita dan kehidupan tokoh tersebut. Tak pelak juga dengan tokoh-tokoh perempuan dalam alkitab. Walaupun bisa dibilang lebih sedikit tokoh perempuan yang diangkat dalam alkitab, namun ternyata banyak sekali yang dapat dipelajari dari tokoh-tokoh teersebut.

Setelah selesai dengan buku PA Ketuhanan Kristus (semoga saja kami bukan hanya selesai bahan, tapi selesai aplikasi), kami pun memutuskan untuk menggunakan buku PA Tokoh Perempuan dalam Perjanjian Baru. Hal ini memang besar kaitannya dengan anggota kami yang semuanya adalah perempuan. Buku PA terbitan Perkantas ini memuat 12 bahan PA tokoh perempuan. Tokoh pertama yang dibahas adalah Elisabet.

Mari mengingat sejenak seperti apa kehidupan Elisabet!

Ia adalah seorang Lewi (berasal dari keturunan Harun). Ia istri seorang imam. Hal ini berarti memang dia lekat dengan kehidupan bait suci karena seluruh kaumya memang ditugaskan untuk mengemaban tugas tersebut. Selain secara status ia adalah seorang Lewi ternyata ia juga disebutkan "benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat (ay.6)".

Namun demikian, ternyata Elisabet tidak memiliki seorang anak (ay.7). Hal ini terjadi karena Elisabet mandul. Hal ini dapat dikatakan bertolak belakang dengan hidupnya yang benar. Karena pada zaman tersebut orang masih berpandangan bahwa mengalami sesuatu yang buruk merupakan kutuk dari Tuhan atas dosanya ataupaun orangtuanya. Jadi pandangan saat itu adalah Elisabet mandul artinya ia mendapat 'kutuk' dari Allah. Ia mendapat kutuk dari Allah karena ia tidak hidup benar. Benarkah demikian?

Tampaknya perkataan itu tidak benar. Lihatlah bagaimana Allah memberikan sebuah mujizat kepadanya. Saat sedang bertugas ternyata suaminya, Zakharia, dihampiri oleh malaikat Gabriel dan ia menyatakan bahwa Elisabet akan melahirkan seorang anak laki-laki.

Yaps, anak laki-laki. Bukan hanya itu, anak itu dinubuatkan akan membawa sukacita dan gembira bagi orangtuanya dan bagi banyak orang. Ia juga akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak minum anggur atau minuman keras. Ia juga penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya. Ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan. Ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam Roh dan kuasa Elia. Ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya. Ia juga akan membuat hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar. Ia akan menyiapakan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.

Wow, nubuat yang panjang dan indah. Memang indah. Dan bukan hanya itu, nubuat itu ternyata digenapi. Siapa yang tidak kenal Yohanes? Bahkan Yesus sendiri dalam Lukas 7 ayat 28 menyebutkan  "Aku berkata kepadamu: Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorang pun yang lebih besar dari pada Yohanes". 

Ah, betapa bahagianya Elisabet karena anaknya tersebut. Anak yang lahir di masa tuanya, dari rahim mandulnya menjadi orang yang besar. Anak yang menjadi perintis bagi Juruselamat.

Sekarang mari kita lihat apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi? Sebenarnya satu kata yang mudah disebuatkan tapi sering kali sulit dilakukan. Ia 'percaya'. Dalam ayat 13 disebutkan bahwa Zakharia berdoa agar mendapat anak. Bukan doa Elisabet yang dikabulkan oleh Allah. Tetapi yang disebut malaikat adalah doa Zakharia.
believe

sumber gambar: http://learntoembracethestruggle.com/what-i-believe-in/

Tapi coba lihat respon Zakharia. Ia malah meragukannya dan berkata "Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya." (ay 18). Ya, Zakharia malah meminta tanda dari nubuat tersebut. Dan memang ia mendapat tanda itu dan menjadi bisu.

Sedangkan Elisabet Ia percaya dan lihatlah apa yang dikatakannya dalam ayat 25 "Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang."

Ah, aku jadi teringat sebuah lagu yang seringkali dinyanyikan untuk sebuah penantian:

Kunantikan janji Allah dig'napi dalamku
Kuharapkan yang terbaik terjadi di dalamku
Yang kutahu Dia kerjakan seturut firmanNya
Bagi kemuliaanNya
Yang kuyakin Dia sediakan
Seturut kasihNya bagiku

Semoga dalam masa penantian penempatan yang tidak kunjung jelas ini aku bisa dikuatkan melalui tokoh Elisabet dan juga lagu ini. Semoga aku bisa tetap yakin bahwa apa yang kualami sekarang membuahkan yang baik ke depan. Amin.

Sincerely,

Agnes

Pelayanan Kecil vs Pelayanan Besar

Filed under: by: COGS


Well, it’s my second time to share my experience here! Kali ini mau sedikit sharing soal pengalaman pelayanan yang menurutku “WOW” banget  :3

Jadi ceritanya, tadi sore (23/12/2012) aku jadi pelayan di Ibadah Minggu GKI Bintaro Utama. Yaa, sebut saja sebagai lektor atau pembaca Firman. Bukan pengalaman pelayanan yang besar mungkin bagi sebagian orang. Tapi bagiku, pelayanan menjadi pembaca Firman tadi adalah pengalaman yang luar biasa cetar membahana badai halilintar sesuatu sekali *lebay*. Pengan tau kenapa? Pengen tau aja apa pengen tau banget? :P *kemudian dilempar cinta <3*


Okay! Apa yang membuat pelayanan tadi jadi spesial bagiku adalah karena aku udah lama mendoakan untuk bisa melayani di gereja tersebut. Mungkin sekitar awal-awal ketika aku jadi mahasiswa di kampus ini (tapi ga awal banget juga sih.. hehe) sampai terakhir kali beberapa minggu yang lalu pas ibadah minggu aku kayak udah pasrah gitu sambil mikir “udah hampir lulus, emang masih ada kesempatan buat melayani di gereja ini, ya Tuhan?”.

Iya, akunya juga dodol beudd sih, kenapa ga langsung mendaftarkan diri jadi pelayan aja, kan bisa? Aku selalu ga punya keberanian buat mengajukan diri mengambil bagian dalam pelayanan di gereja tersebut, pengennya diajakin duluan (bego banget kan ya? -__-)

Dua tahun lebih aku merasa ‘blessed’ banget dengan pelayanan di gereja ini dan mulai muncul kerinduan untuk take action gantian melayani jemaat di gereja ini sebagai wujud syukur kalau aku boleh menikmati ibadah yang berkualitas selama ini. Aku melihat banyak teman-temanku, bahkan yang juga pengurus PMK, ambil bagian dalam pelayanan di gereja. Awalnya aku takut kegiatan-kegiatanku bertabrakan, jadi malah ga konsen dengan pelayanan di kampus (sok sibuk beudd -.-“). Jadi aku memutuskan untuk fokus di pelayanan kampus. Padahal di hati yang terdalam #tsaaahh aku pengen banget melayani di gereja ini, walau pelayanan sekecil apapun, dan aku tetap berdoa. Kalo udah liat temen-temen dari kampus yang jadi pelayan di ibadah minggu, aku langsung terdiam dan bertanya dalam hati “Ahh Tuhan, aku juga ingin punya kesempatan melayani Engkau lewat gereja ini. Gereja dimana Engkau memberikan hamba Firman dan persekutuan yang baik. Temen-temenku aja bisa ngatur waktu pelayanan mereka, masa aku gak sih? Aku juga rindu menyatakan bahwa persekutuan di kampus itu mendukung persekutuan di gereja. Buah pelayanan di kampus harusnya kelihatan dari pelayanan pengurus/jemaatnya di gereja tempat mereka dibesarkan secara rohani”. Itulah yang membuat pelayanan sebagai pembaca Firman kali ini begitu spesial bagiku.

Tapi, ada 2 alasan lain yang menjadi dasar kenapa pelayanan hari ini jadi makin special pake banget :3. Monggo disimak J

·     Yang pertama, sejak diminta oleh seorang teman, sebut saja Grace Yaomil :p, untuk jadi pelayan di ibadah minggu besok paginya (ini beneran mendadak dimintanya loh :D , aku jawab iya dan jadilah sepanjang malam aku memikirkan gimana pelayanan besok. Apa yang kurasakan adalah aku begitu excited-nya dengan pelayanan esok pagi dan mempersiapkan hati dengan sungguh. Aku bersyukur karena doaku akhirnya dijawab Tuhan dan karena ini pelayanan perdanaku di gereja, aku jadi mempersiapkan diri dengan baik (padahal cuma baca firman, ga perlu persiapan yg gimana-gimana sebenernya :p).

Tapi, satu hal yang kudapat adalah kenapa aku bisa sebegitu excited-nya dengan pelayanan baru yang sederhana ini? Kalaulah tiap pelayanan yang kukerjakan di PMK kuanggap sebagai pelayanan baru yang sungguh-sungguh kurindukan sejak lama, pasti semua pelayanan di PMK akan kukerjakan dengan hati yang sungguh dan persiapan penuh. Gak seperti pelayanan yang akhir-akhir ini kukerjakan yang terkesan hanya jadi rutinitas belaka. Ahh, bersyukur sekali karena Tuhan kembali mengajarkan sesuatu yang penting disaat-saat drop-nya pelayananku di PMK. Thank You, dear Lord! J

·   Yang kedua adalah karena aku boleh mengenal satu orang jemaat PMK lagi. Jadi ceritanya tadi aku jadi pembaca firman bareng salah satu jemaat PMK yang sebenernya aku “tahu” tapi “gak kenal”. Buatku bisa mengenal satu lagi jemaat PMK yang kulayani adalah hal yang besar dan luar biasa mengingat aku ini gembala yang sulit mengenal seluruh domba-dombanya. Apa yang kutakutkan waktu bergumul menjadi BPH PMK akhirnya Tuhan jawab satu per satu. Waktu itu aku berdoa. Aku bilang sama Tuhan “ Tuhan, aku ga bisa jadi BPH. Aku aja banyak ga kenal jemaat PMK gimana aku mau mengasihi dan melayani mereka?”. And the answer is satu persatu aku mengenal jemaat, meskipun masih banyak juga yang belum kukenal. At least, ada kemajuanlah.

Kalau ada seseuatu yang rindu kalian kerjakan, ambil waktu untuk mendoakannya dan jadilah jawaban atas doamu itu! Jangan jadi kayak aku, berdoa tapi takut untuk take action, cemen beudd L. Terus, anggaplah setiap pelayanan adalah pelayanan baru yang belum pernah kalian lakukan dan kalian udah lama pengen melakukan pelayanan itu. Dijamin hasilnya pasti akan jadi maksimal. Tapi yang terpenting dari semua itu adalah luruskan dulu motivasi kita dalam melayani. Pelayanan itu bukan ajang untuk show off siapa dirimu tapi ajang untuk memberitakan Injil Kristus. Let Him be the center of your services!

Yap, that’s all for today! Semoga tulisan galau ini bisa bermanfaat buat siapapun yang baca yaa J Thank you for reading! Jesus Christ bless you!

Merry Christmas 2012 and Happy New Year 2013! Have a wonderful Christmas and New Year in Jesus Christ :D


"Melayani manusia adalah sia-sia tetapi melayani Tuhan adalah sukacita" - @megacogs

labil love story :D

Filed under: by: COGS


Hmmm.. my love story with Him started when I was in Junior High School. How come it be? When I was in elementary school I was (not wanna be arrogant yea ^^) a smart student. I always be a candidate if there were a competition. But then, suddenly when the Fire Country attacked, everything change.. buahahaha

My junior high school was the best school in my city, my class also the best (in Indonesia they say it “Kelas Unggulan”). So you can guess it that every student in my class is the best student. It made have a tight competition. I never became the best 5 in my class, this made me very sad. But I never give up, I hope that someday I can be the number one. I always try and try and try, beside that I give all my dreams to God, I depended on Him. I prayed every night, I read bible everyday, I praised him everytime, I went to the church, and be a nice girl. I couldn’t get the best rank in my class, but praised to God, finally my score can be the best score for the National Exam, not only in my school, but also in my city. Three years walked with Him is the most beautiful moment in my life. As Psalms 126 : 5 said “They that sow in tears shall reap in joy.”

Then in the Senior High School, everything’s good. I always had a good score in class n joined a lot of champion and also become the winner (some of them only.. ahahahha). Everything fine till the graduated time. I couldn’t passed my favorite college that I’d dreams for so many time. I trapped in the college that I’ve never know. I were very dissapointed to God, everything seems cold, I even didn’t have a spirit to live.

But then, I thank to God that he gave me a good partnership here. I can learn so many things about Him through daily devotion, bible study, and also small group. First year here, I have a good relation with God. I walked with Him everyday, praised Him, prayed to Him, talked to Him, and do everything with Him. We’re such a romantic couple, always together everywhere and everytime (suit... suit.. :D ).

Moreover I have so many friends that always support me when I almost fall and also a good enviroment. But then in second years, when everything seems blurred and unclear about my future after graduated because of so many hazy rule, I felt very sad. It affected my spirit  to have a good relation with Him, my study, my social intercourse, even my whole live (lebayyyyy).

Thanks to God, I have my small group, I have my friends, my parents and also my boyfriends (xixixixi) that always support me, that always remind me. I believe everything will be alright with God, no matter what will happen I will trust and obey Him. And I will wait upon the LORD, that hideth his face from the house of Jacob, and I will look for Him (Yes 8:17). Because Yes 40:31 said “But those who trust the LORD will find new strength. They will be strong like eagles soaring upward on wings; they will walk and run without getting tired”.

Yeah, my love story such a labil story. Fall and then rise, fall again and rise again, fall and rise, fall and rise untill I’m tired. Although I have read all the bible or I have finished two books for bible study or I have a good small group or I am a servant of God or I am a princess of God or X or Y or Z etc. Thats not guarantee that I will always have an easy live or having a dicipline relation with Him. I am still a sinner.  But Philip 3:12 said “I have not yet reached my goal, and I am not perfect. But Christ has taken hold of me. So I keep on running and struggling to take hold of the prize”

Yeah, So I will  keep on running and struggling to take hold of the prize q(^.^)p



by @littlewinda